THIS IS NOT KARMA
Aku tidak pernah tahu karma akan menjadi sebuah hal pembelajaran yang amat berharga.
Aku kira ia hanya sebatas akhir yang menyedihkan.
Bermula awal tahun 2017 aku sakit, sakit biasa yang tak kunjung sembuh.
Sayangnya tak akan ku bagikan untuk umum sakit apa itu.
Upaya melakukan berbagai pengobatan dari satu dokter ke dokter lain di rumah sakit telah dijalani.
Bertemu dokter ramah hingga dokter tak bersahabat. Mulai diagnosa A, B, hingga C.
Entah mana yang benar.
Aku tidak mudah percaya walaupun seorang dokter yang mengatakannya langsung padaku.
Aku pun tak kalah ingin cari tahu, mendiagnosa sendiri, mencari obat sendiri. (oke ini jangan ditiru)
Hingga akhir tahun 2017 aku menemukan kecocokan pemikiran dengan salah satu dokter (thanks to him).
Dengan telaten beliau menjelaskan.
Tidak hanya berhenti disitu, perjalanan baru dimulai.
Melakukan pengobatan dan penyakit langsung hilang? Tidak.
Tidak semudah itu.
Butuh waktu sekitar 7 bulan aku berkonsultasi dan melakukan pengobatan.
"Kok datang lagi? Cepet o sembuh. Ketemu e jangan disini lagi"
"Ketemu iku yo pas lagi di jalan atau apa gitu"
(Intinya jangan ketemu bahas penyakit atau ketemu pas aku sembuh)
Itu kalimat yang paling aku ingat.
"Aku juga pingin sembuh dok" ("dokter e bosen paling o ndelok aku" batinku)
"Ga apa sabar, tiap orang memang sistem penyembuhannya beda-beda"
Untungnya dokter selalu memberi semangat.
Selama itu aku stress, cengeng memang.
Sakit sebentar (sudah) stress.
Memang terlihat biasa, tapi aku berkata ini luar biasa.
Ini adalah jawaban dan jalan.
Sakit memang membuat frustasi, lalu kita sadar betapa berharganya sehat.
Yang paling berkesan,
karena aku sekarang tau siapa aku.
Aku berpikir bahwa rumah sakit dan dunia medis sekedar yah,, hal biasa.
Aku dapat merubah pemikiranku mengenai itu sekarang.
Mereka adalah tempat pelarian bagi kamu yang ingin suatu jawaban atas penyakit(fisik),
Mereka adalah perantara Tuhan menjawab pertanyaanku.
Aku kira ia hanya sebatas akhir yang menyedihkan.
Bermula awal tahun 2017 aku sakit, sakit biasa yang tak kunjung sembuh.
Sayangnya tak akan ku bagikan untuk umum sakit apa itu.
Upaya melakukan berbagai pengobatan dari satu dokter ke dokter lain di rumah sakit telah dijalani.
Bertemu dokter ramah hingga dokter tak bersahabat. Mulai diagnosa A, B, hingga C.
Entah mana yang benar.
Aku tidak mudah percaya walaupun seorang dokter yang mengatakannya langsung padaku.
Aku pun tak kalah ingin cari tahu, mendiagnosa sendiri, mencari obat sendiri. (oke ini jangan ditiru)
Hingga akhir tahun 2017 aku menemukan kecocokan pemikiran dengan salah satu dokter (thanks to him).
Dengan telaten beliau menjelaskan.
Tidak hanya berhenti disitu, perjalanan baru dimulai.
Melakukan pengobatan dan penyakit langsung hilang? Tidak.
Tidak semudah itu.
Butuh waktu sekitar 7 bulan aku berkonsultasi dan melakukan pengobatan.
"Kok datang lagi? Cepet o sembuh. Ketemu e jangan disini lagi"
"Ketemu iku yo pas lagi di jalan atau apa gitu"
(Intinya jangan ketemu bahas penyakit atau ketemu pas aku sembuh)
Itu kalimat yang paling aku ingat.
"Aku juga pingin sembuh dok" ("dokter e bosen paling o ndelok aku" batinku)
"Ga apa sabar, tiap orang memang sistem penyembuhannya beda-beda"
Untungnya dokter selalu memberi semangat.
Selama itu aku stress, cengeng memang.
Sakit sebentar (sudah) stress.
Memang terlihat biasa, tapi aku berkata ini luar biasa.
Ini adalah jawaban dan jalan.
Sakit memang membuat frustasi, lalu kita sadar betapa berharganya sehat.
Yang paling berkesan,
karena aku sekarang tau siapa aku.
Aku berpikir bahwa rumah sakit dan dunia medis sekedar yah,, hal biasa.
Aku dapat merubah pemikiranku mengenai itu sekarang.
Mereka adalah tempat pelarian bagi kamu yang ingin suatu jawaban atas penyakit(fisik),
Mereka adalah perantara Tuhan menjawab pertanyaanku.
Komentar
Posting Komentar